Rabu, 08 Juni 2016

BERBURU ILMU BUDIDAYA IKAN PURBA (IKAN SENGKARING) BAGIAN I



IKAN SENGKARING, ikan purba yang hampir punah dan bernilai ekonomis tinggi
Oleh : Jila Suliastini, S.Pi 

Ikan Sengkaring merupakan ikan local atau asli Indonesia. Ikan Sengkaring atau disebut dengan ikan Dewa di berbagai daerah lain dikenal sebagai ikan udikan, kambangan, Tambra, Kancra, Jurung, Semah. Nama ilmiah dari ikan Sengkaring ini adalah Tor Soro/ Tor Tambra yang merupakan keluarga dari Tor sp. Di mana sebaran ikan ini di Indonesia mulai dari Pulau Sumatra, Kalimantan dan Pulau Jawa.
Ikan Sengkaring dibeberapa daerah merupakan ikan yang di keramatkan, sehingga tidak ada orang yang berani untuk mengambilnya. Di Jawa Timur ikan Sengkaring hanya ditemukan di daerah Pemandian Banyu Biru Pasuruan dan di Telaga Rambut Monte di Blitar. Tepatnya di Pemandian Banyu Biru yang terletak di Desa Sumberrejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan dan di Telaga Rambut Monte Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Berikut lokasi dan mitos tentang keberadaan ikan Sengkaring di Indonesia  dari berbagai sumber :
1.     Pemandian Banyubiru Winongan Pasuruan
Pemandian Banyubiru ini merupakan salah satu situs bersejarah era Majapahit. Di dalam kolam pemandian terdapat banyak sekali ikan Sengkaring. Pemandian Banyubiru ini dibangun oleh Bupati Pasuruan yang bertama yakni Raden Adipati Nitiningrat. Bupati tersebut mengajak saudagar dari Belanda yang bernama PW Hoplan. Kemudian kolam tersebut dibangun oleh Belanda sebagai pemandian umum dan diberi nama telaga Wilis. Agar terlihat indah, kolam tersebut dihiasi dengan taman dan diberi sebelas patung yang yang diambil dari Singosari. Dulunya, ada yang menyebut bahwa ikan–ikan yang berenang di dalam kolam adalah para prajurit dari Kerajaan Majapahit yang telah dikutuk. Karena cerita rakyat inilah tidak ada yang berani mengganggu ikan tersebut. 
 Pemandian Banyubiru pada jaman Belanda
2.     Telaga Rambut Monte Kab. Blitar
Telaga Rambut Monte di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, tak hanya menyimpan keindahan nan asri dan alami. Obyek wisata yang juga cagar alam itu juga menjadi habitat fauna air atau ikan-ikan yang spesiesnya tergolong purba. Jumlahnya ada lebih dari 100 ekor. Yang paling besar memiliki panjang sekitar 30 centimeter. Warnanya kelabu kecoklatan, bersisik tegas. Kepalanya lebih besar dari badannya dengan di sekitar mulut berhias sulur. Fisiologinya perpaduan antara lele dan hiu. Warga desa menyebutnya ikan sengkaring. Ada juga yang menamakan ikan dewa. Dulunya ikan langka itu hanya hidup di satu titik mata air yang berupa pemandian kecil. Ada kisah mitos bahwa kawanan ikan sengkaring yang hidup di Telaga Rambut Monte itu bersifat metafisika atau gaib. Satwa air yang diyakini berusia ratusan tahun itu dianggap beberapa orang merupakan penjelmaan balatentara Majapahit. Karenanya, tidak ada satu pun warga yang berani menangkap, apalagi menyantapnya. Suyono (67), warga setempat, bercerita bahwa pernah ada warga yang mencoba menangkap dan mencoba memasakna. Konon, daging ikan berubah menjadi minyak. Dan yang menyengat adalah adanya aroma amis darah. Oleh sebagian warga cerita itu diyakini kebenaranya. Karenanya tidak ada yang berani menangkap ikan di telaga.
3.     Sungai Janiah Nagari Tabek Panjang, Baso, Padang Sumatera Barat
Sungai Janiah bukanlah sebuah sungai berair jernih, tapi hanya sebuah kolam ikan di belakang masjid. Terletak 3,5 km dari sebeuah simpang sebelum Pasar Baso di tepi jalan raya Bukittinggi-Payakumbuh kini dijadikan objek wisata.
Orang-orang disana hanya tahu ikan-ikan tersebut sakti dan sudah ada sejak jaman dahulu. Penduduk sekitar memiliki legenda bahwa nenek moyang ikan di sana berasal dari seseorang anak perempuan. Di Sumatera Barat ikan ini dikenal sebagai ikan Semah atau gariang, habitatnya di lubuk larangan yang masih terjaga hingga saat ini. Masyarakat hanya boleh memanennya pada bulan bulan tertentu seperti bulan Maulid dimana pagar gaib dari sungai dibuka oleh pemuka agama sehingga ikan tersebut bisa diambil dan dimasak.
4.     Desa Rianate, Padang Sidimpuan, Tapanuli Selatan
Disebut dengan ikan Jurung, sebuah keajaiban bertahan selama hampir satu abad di desa Rianiate, Kecamatan Pdangsidimpuan Barat, Tapanuli Selatan, ribuan ikan jurung berukuran 50 cm dengan berat mencapai 2 kg lebih, hidup liar dalam sebuah sungai kecil dan dangkal yang mengalir di belakang rumah penduduk. Bila kemarau tiba dan debit sungai mengecil, hanya 1/3 dari tubuh ikan-ika tersebut terbenam dalam air. Tapi penduduk tidak memakan atau mengganggunya. Sebuah kepercayaan keramat telah menyelamatkan ikan jurung ini dari kepunahan.
Ikan Sengkaring pada saat ini sudah mulai jarang ditemukan di sungai bahkan dibeberapa wilayah sungai sudah tidak pernah dijumpai lagi dikarenakan kegiatan penangkapan yang berlebihan serta penggunaan alat-alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan setrum, peledak, potas atau racun. Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan telah secara intensif dari tahun 1997 melakukan penelitian dan pengembangan ikan dewa yang dilakukan oleh Cijeruk Bogor Jawa Barat. Dengan telah dikeluarkannya SK Menteri Kelautan dan Perikanan no. KEP. 66/MEN/2011 yang menyatakan bahwa Ikan Dewa atau nama latinnya ikan Tor soro/ Tor tambra telah diresmikan sebagai ikan budidaya. Maka masyarakat sudah diperbolehkan mengembangkan dan membudidayakannya untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan protein maupun untuk tujuan komersial. Namun demikian hingga ini ketersediaan bibit ikan serta pengetahuan yang berkaitan dengan teknik budidaya ikan sengkaring/ tambra ini masih sangat terbatas.
          Di Jakarta, Medan dan beberapa kota besar ikan dewa menjadi menu special di Restoran Exclusive dengan harga per porsinya bias mencapai Rp. 1.000.000,- untuk ukuran 1 kg. Harga ikan konsumsi local cukup tinggi antara Rp. 80.000,- s.d Rp. 600.000,- / kg. Di mancanegara di Malaysia di kenal sebagai ikan Kelah yang merupakan ikan konsumsi yang sangat mahal, juga sebagai ikan hias yang hampir sekelas dengan ikan Arwana. Harga di Malaysia RM 600 per kg. Harga export US $ 60-104/kg. Ikan ini memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi, sehingga perlu untuk terus dikembangkan dan dibudidayakan.
Ikan Sengkaring yang ada di Pemandian Banyu Biru yang terletak di Desa Sumberrejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan sampai saat ini belum pernah ada yang membudidayakannya. Oleh sebab itu UPT Pengembangan Budidaya Air Tawar Umbulan berusaha untuk membudidayakannya melalui metode domestikasi.
Tahapan domestikasi
Terdapat empat tahapan domestikasi spesies liar/ endemic lokal, yaitu :
1.     Koleksi ikan endemic local yang hampir punah
Dengan cara mencari Ikan endemic local dan menginvetarisasi jenis-jenis ikan endemic local. UPT PBAT Umbulan mulai mengkoleksi ikan Sengkaring mulai tahun 2011. Sebanyak 10 ekor ikan Sengkaring dengan berat rata-rata 200 gram/ ekor kami peroleh ikan Sengkaring yang ada di Pemandian Banyubiru, Winongan Pasuruan. Tidak banyak memang ikan yang kami peroleh, karena ikan Sengkaring ini memang dikeramatkan atau dilarang untuk diambil, namun dikarenakan kami ingin mempelajari dan berusaha untuk membudidayakannya, maka kami diperbolehkan untuk mengambil ikan Sengkaring tersebut.

2.     Mempertahankan agar bisa tetap hidup (survive) dalam lingkungan budidaya perairan (wadah terbatas, lingkungan artificial dan terkontrol),
Dengan cara merekayasa lingkungan wadah pemeliharaan sehingga memiliki kualitas air yg bisa diterima oleh spesies liar yg akan didomestikasi
Ikan Sengkaring ini telah dapat beradaptasi di lingkungan kolam UPT PBAT Umbulan, ditandai dengan adanya penyesuaian pakan dan tempay hidup dan tidak adanya kematian selama adaptasi.
3.     Menjaga agar tetap bisa tumbuh,
Dengan cara merekayasa pakan sehingga secara kuantitatif dan kualitatif bisa mendukung pertumbuhan somatic.
Ikan sengkaring yang dikoleksi pada tahun 2011 ini dengan berat 200 gram/ ekor telah dapat tumbuh dengan baik di kolam pemeliharaan UPT PBAT Umbulan. Pada saat ini, tahun 2016, telah mengalami pertumbuhan dengan berat ikan sengkaring berkisar 500 – 1500 gram/ ekor.

4.     Mengupayakan agar bisa berkembang biak dalam lingkungan budidaya perairan
Dengan cara merekayasa pakan untuk mendorong terjadinya pertumbuhan generatif  serta merekayasa lingkungan dan hormonal yg berpengaruh terhadap proses vitelogenesis dan proses ovulasi.
Kegiatan pematangan dan pemijahan ikan Sengkaring ini masih dalam proses penelitian. Upaya kegiatan pemijahan ikan Sengkaring ini sudah dimulai pada tahun 2015 namun sampai saat ini belum berhasil. Oleh sebab itu untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan telah diupayakan oleh UPT PBAT Umbulan dengan mengirim 2 orang petugas teknis untuk magang pada PT Biwanda Mitra Jasa di desa Kaang Tengah, ke. Cilongok, Purwokerto, Jawa tengah yang telah berhasil mengembangkan budidaya ikan dewa sejak tahun 2010.



5 komentar:

  1. Mantaap bu..Boleh bu staf nya di kirim ke kami, di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya AIr Tawar, ikan senggaring di Instalasi kami Cijeruk sudah bisa memijah secara alami, kami melakukan reproduksi semi alami.
    tekuni terus...
    salam.

    Jojo Subagja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih pak Jojo Subagja atas perhatiannya.
      Kami akan mengagendakan untuk belajar ke tempat Bapak, mohon bimbingan dan arahannya.

      Terima kasih.

      Hapus
  2. Ikan ini "sangkareng" bahasa kami jember lumajang, jg banyak populasinya di sepanjang aliran sungai bondoyudo wonorejo lumajang,favorit pemancing karna tarikannya dahsyat.

    BalasHapus
  3. Perlu didukung budidaya ikan ini..

    BalasHapus
  4. Apakah ikan ini sama dengan masheer atau kancra, atau tombro atau ikan dewa ?

    BalasHapus